Mencetak Manusia Cerdas (II)

Komunikasi adalah salah satu kebutuhan manusia, dan itu harus terpenuhi. 70% waktu jaga kita digunakan untuk berkomunikasi. Komunikasi menentukan kualitas hidup kita. Ketidakadaan komunikasi dalam kehidupan seseorang berakibat jauh lebih dahsyat dari hanya sekedar terpuruknya kualitas hidupnya, yaitu ketidakmampuan untuk mempertahankan kehidupannya itu sendiri.
Kita percaya, manusia tunduk pada hukum hereditas. Penampilan kita ditentukan oleh penampilan kedua orang tua kita, ½-nya kita dari ibu dan ½-nya lagi dari ayah. Dalam hal kecerdasan, kita dapat mengusahakan kecerdasan anak manusia menjadi jauh lebih cerdas dari orang tuanya. Setiap anak manusia dilahirkan dengan otak yang mempunyai potensi yang sama dengan otak Albert Einstein. Setiap anak dilahirkan berpeluang secerdas Albert Einstein. Usaha dalam mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan anak harus dilakukan dengan bijak. Anak punya dunianya yang tidak sepenuhnya sama dengan dunia orang tuanya.


Plato (427 – 347 SM) mempunyai gagasan agar yang memimpin negara adalah manusia terbaik di negara itu. Mereka itu adalah manusia yang menjadikan kepalanya sebagai sumber berprilaku.

Plato membagi manusia dalam tiga kelompok dilihat dari sumber prilakunya. Ada manusia yang menjadikan sulbinya (baca nafsu) sebagai sumber berprilaku. Kelompok pertama ini cirinya ‘rakus’ mengejar kekayaan dan kenikmatan. Bagi mereka kebajikan tertinggi adalah pemilikan. Mereka cocok menjadi pedagang atau pengusaha. Yang kedua manusia yang dikuasai jantungnya. Usaha yang diperjuangkannya adalah sesuatu yang disebut kemenangan. Yang ditetapkan sebagai kebajikannya yang tertinggi adalah penaklukan. Mereka cocok menjadi tentara. Yang ketiga, insan yang teristimewa, manusia kepala. Merekalah yang akan sanggup menggunakan akal, sehingga pasar menghadirkan kesejahteraan yang berkeadilan dan pertarungan di suatu medan perang yang berperikemanusian. Mereka itu ibu kandung yang melahirkan gagasan-gagasan cemerlang. Mereka itu yang memiliki kearifan. Mereka itu filosof. “Umat manusia tidak akan selamat, kecuali bila diperintah oleh raja yang filosof, atau pangeran-pangeran yang memiliki kearifan,” kata Plato.
Untuk merealisasikan idenya itu, dibuatnya sekolah. Sebuah universitas yang pertama, Akademia namanya didirikan di Athena. Sekolah yang selain mempersyaratkan kekhususan peserta didiknya, yaitu yang unggul berprestasi, mempersyaratkan juga kemampuan matematika yang tinggi (pada saat itu istilah matematika belum digunakan). Di gerbang masuk Akademia terpampang tulisan yang menyatakan bahwa hanya yang menguasai Geometri yang diperkenankan masuk”.

Lain Plato, lain Nietzsche. Dalam pandangan Nietzsche manusia yang perkasa dan teruji kejantanannya sajalah yang pantas hidup di dunia. Tokoh lain masih banyak yang berkomentar tentang manusia yang sempurna. Mereka itu manusia cerdaskah?

Kecerdasan seseorang dapat diukur. Alat ukur kecerdasan yang biasa digunakan adalah perangkat tes IQ (Intelligence Quotient). Tetapi sayang, yang terukur hanya kecerdasan intelektualnya saja, kecakapan dan inteligensi emosi juga spiritual tak dapat diungkap dengan IQ.
Dari pandangan para pakar, manusia dan kecerdasannya dapat dibagi menjadi tiga kelompok:

  1. Manusia dilahirkan cerdas,
  2. Manusia lahir tanpa memiliki inteligensi (kecerdasan),
  3. Inteligensi berkembangan dan dapat dibina seiring dengan pertumbuhan manusia itu sendiri terutama pada lima tahun pertama dalam kehidupannya, melalui lingkungan dan pengaruh orang tua dan guru-guru.

Apa pun pandangan kita tentang manusia dan kecerdasannya, yang pasti kita dapat memiliki kecerdasan yang tinggi. Yang harus dipastikan kita adalah manusia cerdas yang memiliki kecerdasan yang tinggi dan terpuji. Hal itu dapat dicapai dengan:

  1. Menyatakan rasa syukur karena tercipta sebagai manusia, makhluk terbaik ciptaan-Nya.
  2. Berpikir positif dan hindari komentar negatif.
  3. Berkemauan keras untuk berprestasi, fastabikul khoirat.
  4. Belajar sepanjang hayat, terus mengaktualisasikan potensi diri.
  5. Memiliki identitas atau jati diri yang unggul

Bersyukur tercipta sebagai Manusia
Manusia, dalam al-Qur’an (21:37) disebutkan tercipta (bertabiat) tergesa-gesa. Manusia dianugrahi akal untuk berpikir, namun ia juga memiliki kecenderungan untuk tidak berpikir panjang dan mempertimbang¬kan secara matang. Sehingga tindakannya bisa merusak dan merugikan diri sendiri bahkan bisa menjatuhkan derajatnya sampai yang serendah-rendahnya di bawah derajat hewan. Waspadalah manusia!
Manusia adalah makhluk yang tercipta dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Yang melebihi sekalian makhluk. Setiap bayi manusia dilahirkan mempunyai potensi untuk menjadi ‘imago Dei’ (Citra Tuhan) di muka bumi. Berpotensi untuk menjadi pemimpin ataupun penyingkap rahasia Ilahiah. Harimau yang garang atau macan yang berang tak sanggup menggantikan manusia untuk menjadi pengelola alam ini. Bahkan raja hutan mendapat perlindungan manusia dari kepunahan.
Segala yang ada di alam semesta ini diserahkan kepada manusia untuk dimanfaatkan dan dipelihara. Kekuatan-kekuatan alam yang terkadang tampak dalam wujud yang menakutkan dan berbahaya dapat dirombak dan diubah menjadi sumber penghidupan seandainya manusia mengendalikannya dengan benar. Manusia dianugrahi kekuatan berupa kemampuan untuk memahami alam. Tapi kekuatan itu memerlukan pengembangan. Usaha melakukan pengembangan kekuatan ini, yaitu kekuatan pribadi, adalah wujud rasa syukur kita tercipta sebagai manusia.

Berpikir positif dan hindari komentar negatif
Anda sudah berpikir positif, jika Anda mempunyai pandangan positif tentang diri Anda, pekerjaan Anda, dan pandangan orang lain pada diri dan pekerjaan Anda. Berpikir positif mempunyai ekspektasi (pengharapan) yang baik dan sangat membantu dalam usaha mewujudkannya, what you think about, comes about.
Dalam dunia pendidikan hadiah dan hukuman masih menjadi topik yang terus didiskusikan. Saya berpendapat, kita perlu menunjukkan penghargaan secara terbuka terhadap setiap prestasi yang dicapai. Setiap yang berprestasi layak mendapat imbalan. Dan saya berpendapat agar terhadap anak didik hindari kritik. Kalau terpaksa, kritik itu harus disampaikan tanpa mempermalukan anak dan ditunjang dengan argumentasi yang rasional. Bukankah para Malaikat di langit yang tinggi pun dzikir sebagai berikut:

سبحان من اظهر جمل و ستر القبح

“Mahasuci Dia yang menonjolkan yang indah dan menyembunyikan yang buruk.”
Inilah akhlak Tuhan dan ini juga sepatutnya menjadi akhlak orangtua dan yang akan tua.

Berkemauan keras berprestasi
Pernah satu waktu para dokter olahraga mengatakan bahwa batas kecepatan lari manusia adalah empat menit dalam satu mil. Manusia tidak mungkin menempuh jarak satu mil kurang dari empat menit. Seorang dokter bahkan mengatakan jika manusia lari lebih dari batas kecepatan itu, jantungnya akan pecah karena kelebihan tenaga.
Roger Bannister berlatih untuk menolak anggapan para dokter itu. Ia akhirnya berhasil memecahkan rekor, menempuh jarak satu mil dengan waktu 3 menit 59,4 detik. Segera setelah peristiwa ini, orang mengatakan bahwa Bannister bukan manusia biasa. Ia superhuman. Tidak ada seorang pun yang mampu mengungguli dia. Tetapi satu bulan kemudian, John Landy, pelari Australia menempuh jarak satu mil kurang dari empat menit.
Salah satu penjelasan tentang keberhasilan ini adalah teori modelling. Ketika ada manusia yang sanggup melakukan sesuatu, manusia lain pun berpikir sama. Mereka berpikir bila orang lain mampu mengapa mereka tidak. Pikirannya mempengaruhi kekuatan fisiknya. You don’t think what you are. You are what you think. (Catatan Kang Jalal, Rosda, Bandung, 1997)

Belajar
Kita semua lahir dengan rasa ingin tahu yang tak terpuaskan. Dan kita semua memiliki alat yang kita perlukan untuk memuaskannya. Pernahkah Anda saksikan bayi yang menconba boneka baru? Ia meletakkan pada mulutnya untuk mengetahui bagaimana rasanya. Ia menggungcangkannya, mengangkatnya, dan perlahan-lahan memutarnya supaya ia tahu bagaimana setiap sisinya menangkap cahaya. Ia menempelkannya pada telinganya, menjatuhkannya di atas tanah, dan memungutnya lagi memecahkannya dan meneliti bagian demi bagian.
Proses eksploratoris ini belakangan disebut ‘belajar global’, global learning. Belajar global adalah cara belajar yang begitu efektif dan alamniah bagi manusia sehingga jiwa anak sampai menyerap fakta, sifat fisik, dan kerumitan bahasa dengan cara yang sangat menyenangkan dan bebas stres. Tambahkan pada proses ini faktor umpan balik positif dan stimulus lingkaran. Maka Anda telah menciptakan kondisi sempurna untuk belajar yang tak terbatas.
Marilah kita lihat sebagian dari tonggak-tonggak belajar pada kehidupan awal anak yang sehat dan normal. Kemungkinan besar anak ini tak ubahnya dengan Anda. Pada saat merayakan ulang tahun yang pertama, Anda mungkin sudah bisa berjalan – sebuah proses yang secara fisik dan neurologis sangat kompleks dan hampir tidak mungkin dijelaskan dalam kata-kata atau diajarkan melalui demonstrasi. Toh Anda dapat melakukannya, walaupun berkali-kali jatuh dan jungkir balik, dan tidak pernah merasa gagal jika Anda jatuh. Mengapa? Saya yakin sebagai orang dewasa, Anda dapat menyebut beberapa peristiwa ketika Anda tidak mau belajar sesuatu yang baru hanya karena gagal sekali atau dua kali saja. Tetapi mengapa Anda terus menerus mencoba ketika belajar berjalan?
Jawabannya ialah Anda tidak mengenal konsep kegagalan. Juga yang sangat membantu adalah orangtua Anda. Mereka yakin bahwa jika Anda terus memberikan dorongan, Anda akan berhasil. Mereka selalu siap memberikan dorongan. Setiap keberhasilan selalu disambut dengan kegembiraan dan ucapan selamat, yang mendorong Anda untuk lebih banyak lagi meraih keberhasilan.
Ketika Anda berusia kira-kira dua tahun, Anda mulai berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, sebuah keterampilan yang dipelajari tanpa buku, tata bahasa, kelas, atau ujian. Jika Anda seperti kebanyakan orang, sebelum ulang tahun kelima, Anda menguasai 90% kata-kata yang akan Anda gunakan secara teratur sepanjang hidup.
Kemudian suatu hari, mungkin di kelas satu atau dua, Anda duduk di kelas dan guru berkata, ”Siapa yang tahu jawabannya?” Anda mengangkat tangan terlonjak dari tempat duduk kegirangan sampai guru menyebut nama Anda. Dengan yakin Anda menyebut jawaban itu. Tiba-tiba Anda mendengar anak-anak lain tertawa dan guru berkata “Bukan itu, salah! Saya heran mendengar jawabanmu.”
Anda merasa malu di depan kawan-kawan dan guru Anda salah seorang di antara tokoh yang memiliki otoritas dalam kehidupan Anda. Kepercayaan diri Anda goyah. Benih keraguan mulai tertanam dalam pscyche Anda.
Bagi kebanyakan orang, inilah permulaan citra diri negatif. Sejak saat itu belajar menjadi beban. Keraguan tumbuh di dalam diri, dan Anda mulai makin sedikit mengambil resiko.
Umpan balik negatif yang terus-menerus ini sangat mematikan. Setelah beberapa tahun di sekolah, terjadilah learning shutdown (kebuntuan belajar). (Quantum Learning 1992)

Berikut puisi yang patut untuk direnungkan.

Children Learn What They Live
(by Dorothy Law Nolte)

If a child lives with criticism, He learns to condemn.
If a child lives with hostility, He learns to fight
If a child lives with ridicule, He learns to be shy.
If a child lives with shame, He learns to feel guilty.
If a child lives with tolerance, He learns to be patient
If a child lives with encouragement, He learns to be confident.
If a child lives with praise, He learns to appreciate
If a child lives with fairness, He learns justice.
If a child lives with security, He learns to have faith.
If a child lives with approval, He learns to like himself
If a child lives with acceptance and friendship, He learns to find love in the world.

Anak Belajar dari Kehidupan

Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, Ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, Ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, Ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, Ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, Ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, Ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, Ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, Ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, Ia belajar menyenangi dirinya
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Jati diri yang unggul
Adalah Dr. Suci Martiningsih Wibowo, psikolog yang telah serius mengkaji tentang jati diri orang Indonesia. Sebelumnya konsep jati diri belum jelas di Indonesia. Sebenarnya ada buku karya Mukhtar Lubis berjudul “Manusia Indonesia”. Lubis melukiskan bahwa manusia Indonesia itu banyak negatifnya. Manusia Indonesia cenderung mengekor, tidak punya pendapat. Padahal ciri orang yang mempunyai jati diri adalah yang mempunyai pendapat sendiri (dapat saja sih pendapat kita sama dengan pendapat orang lain tapi harus wanti-wanti tidak ngekor gitu lho), mampu mengutarakan pendapatnya dan bertanggung jawab.
Seorang pramuka yang berkode kehormatan try satya dan berprilaku dasa darma, dapat dipastikan mempunyai jati diri yang unggul. Cobalah perbaharui ikrar janji sebagai seorang pramuka setiap pagi. Sebagaimana Jendral Yusuf kalau akan melangkahkan kakinya pergi keluar rumah berkata, “Saya adalah Yusuf, seorang yang jujur dan bertanggung jawab.”
“Who am I,” demikian Prof. Emil Salim mempertanyakan hal itu pada dirinya sendiri, dan itu sering kali dilakukannya. Pertanyaan yang mengantarkan kemauan untuk bertanggung jawab atas keberadaan dirinya sekarang. Gus Dur, mantan Presiden RI, tokoh Demokrasi pendiri dan pemimpin Forum Demokrasi, mengutarakan bahwa agar demokrai terbentuk identitas harus dikembangkan. Sekiranya terjadi sebuah perbedaan lazimnya dalam dunia demokrasi, tetapi hal itu tetap dalam upaya menentukan yang terbaik buat negeri ini bukan sekedar untuk berbeda.
Siapa saya? Saya adalah pelajar, siswa SMU Negeri 1 Majalengka yang bisa mengubah dunia. Dengan belajar, saya bisa mengubah dunia. Paling tidak dunia yang paling dekat dengan saya, yaitu dunia pandangan, pikiran, dan hati saya. Saya adalah manusia cerdas yang bertanggung jawab.

Pemimpin Majalengka dari masa ke masa

SEJARAH MAJALENGKA

Di kawasan Majalengka sekarang ini, kerajaan-kerajaan dan pemerintahan masa lampau yang pernah berkuasa adalah Kerajaan Rajagaluh, Kerajaan Talaga, Kerajaan Sindangkasih, dan Pemerintahan Pangeran Muhammad.

Kerajaan Rajagaluh

Kerajaan Rajagaluh berada di kawasan Rajagaluh sekarang. Raja yang pernah berkuasa adalah Prabu Cakradiningrat.

Kerajaan Talaga

Kerajaan Talaga berdiri tahun 1292M oleh Batara Gunung Pucung (R. Syadewata). Beliau mempunyai anak bernama Prabu Darmasuci yang menjadi raja pertama kerajaan Talaga. Prabu Darmasuci mengikuti jejak ayahnya menjadi Rajaguru Budayasarwatiwada (Mahayana dan kerajaan dirajai oleh putranya yang bernama Sunan Talaga Manggung.
Pada tahun 1530 kerajaan Talaga masuk Islam, yaitu pada saat raja Parung Gangsa (Sunan Parung) yang diberi gelar oleh Sunan Gunungjati sebagai Pucuk Umum Talaga.

Kerajaan Sindangkasih

Nyi Rambutkasih (Nyi Ambetkasih) adalah pendiri kerajaan Sindangkasih. Beliau adalah seorang pemberani, memiliki paras yang cantik molek, berambut panjang, bijaksana, dan waspada permana tingal. Beliau sangat memperhatikan kemakmuran rakyatnya, terutama dalam bercocok tanam.
Peninggalan Nyi Rambutkasih yang masih utuh adalah paniisan, mungkin bekas padepokan.

Pemerintahan Pangeran Muhammad

Kerajaan Sindangkasih berakhir, Sindangkasih berganti nama menjadi Majalengka yang dipimpin oleh Pangeran Muhammad.
Pangeran Muhammad memperistri Siti Armilah seorang putri Sindangkasih anak seorang pemuka agama Islam, memperoleh putra bernama Pangeran Santri. Pangeran Santri sangat cerdas dan tangkas, sehingga pada tahun 1530 beliau diangkat menjadi raja Sumedanglarang yang berlokasi di Dayeuh-luhur Sumedang.

BUPATI dan WAKIL RAKYAT

Bupati Majalengka dari masa ke masa

  1. Dalem Panungutun
  2. Dalem Lumaju
  3. Dalem Kulunata
  4. Dalem Cucuk
  5. Dalem Suhahurang
  6. Dalem Barzah Mangunnagara (Mangkubumi)
  7. Dalem Arya Jayawirya
  8. Dalem Jayakusumah (Paniis)
  9. Tumenggung Jagawisesa (Cigasong)
  10. Tumenggung Natakaria
  11. Bupati R.T. Dendanegara (1819-1849)
  12. Bupati R.A.A. Kartadiningrat
  13. Bupati R.A. Bahudenda (1857-1863)
  14. Bupati R.A.A. Suraadiningrat (1863-1883)
  15. Bupati R.A.A. Suriadiredja (1883-1885)
  16. Bupati R.M.A.A Salmon Suriadiningrat (1885-1902)
  17. Bupati R.A.A. Sasrabahu (1902-1922)
  18. Bupati R.M.A.A. Suriatanudibrata (1922-1944)
  19. Bupati R.A. Umar Said (1944-1945)
  20. Bupati R. Enoch (1945-1947)
  21. Bupati R. Sulaeman Nataamidjaja (1947-1949)
  22. Bupati M.R. Mamun (1949)
  23. Bupati R.H. Hamid (1949)
  24. Bupati M. Chafil (1949)
  25. Bupati R.M. Nur Atmadibrata (1950-1957)
  26. Bupati H. Azis Halim (1957-1960)
  27. Bupati H.R.A. Sutisna (1960-1966)
  28. Bupati R. Saleh Sediana (1966-1978)
  29. Bupati Moch. S. Paindra (1978-1983)
  30. Bupati H.R.E. Djaelani, S.H. (1983-1988)
  31. Bupati Drs. H. Djufri Pringadi (1988-1993)
  32. Bupati Drs. H. Adam Hidayat, S.H. (1993-1998)
  33. Bupati Hj. Tuty Hayati Anwar, S.H., M.Si (1998-2003)
  34. Bupati Hj. Tuty Hayati Anwar, S.H., M.Si (2003-2008)

Ketua DPRD Majalengka dari masa ke masa

  1. Wachyudin (1950-1951)
  2. K.H. Asyikin Hidayat (1951-1956)
  3. Indro Sukardi (1956-1957)
  4. Indro Sukardi (1957-1964)
  5. R. Fachil Wiryoatmojo (1964-1966)
  6. Ahmad Busyaeri (1966-1971)
  7. M. Chalil (1971-1977)
  8. H. Moch. S. Paindra (1977-1978)
  9. H. Muchtar S. (1978-1982)
  10. H. Wardja (1982-1987)
  11. Drs. Uton H. Suganda (1987-1992)
  12. H. Suyanto (1992-1997)
  13. Drs. H.M. Kosasih (1997-1999)
  14. Drs. H. Tjutjup Supardjo (1999-2004)
  15. H. Eman Sulaeman, S.E. (2004-2009)

Selamat Idul Fitri

الله اكبر الله اكبر الله اكبر لااله الا الله  الله اكبر الله اكبر و لله الحمد

Selamat Idul Fitri, semoga kita semua mendapat anugrah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa rahmat, magfirah dan kepastian terbebas dari siksa api neraka.

تقبل الله منا و منكم صيامنا و صيامكم كل عام و انتم بخير . تقبل يا كريم

Semoga kita bisa saling mendoakan dan memaklumi atas kekurangan yang membuat terjadinya hal yang disebut khilaf.

Mencetak Manusia Cerdas

(Bagian Pertama)

Cerdas menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dsb) atau tajam pikirannya. Usaha mencetak anak manusia yang cerdas telah berlangsung sejak anak manusia menghuni bumi ini. Ada banyak cerita. Beberapa akan disampaikan di sini. Kita awali dari lamunan Raja Frederik II, penguasa Sicilia abad XIII. Ia ingin mengetahui bahasa apa yang akan dipergunakan anak-anak, bila mereka dibesarkan tanpa diajari berbicara. Digelarlah percobaan. Sejumlah bayi dibawa ke laboratoriumnya. Ibu-ibunya disuruh memandikan dan menyusukannya, tetapi mereka dilarang mengajak bicara. Hasilnya menakjubkan! Semua bayi dalam percobaan itu mati, semuanya. Kenapa demikian?

Di Italia ada cerita tentang Piero. Awalnya begini. Setelah Leonardo da Vinci meninggal pada 1519, saudara kembarnya Bartolomeo ingin memproduksi tiruan hidup dari pelukis besar, pematung, insinyur, dan pengarang tersebut. Karena ia dan Leonardo bertalian keluarga, ayah yang ia pilih untuk anak tiruan itu adalah dirinya sendiri. Seorang wanita yang latar belakangnya sama dengan ibu Leonardo dipilihnya menjadi istri, yaitu wanita muda, berasal dari keluarga petani, dan tumbuh besar di desa Vinci. Pasangan ini melahirkan seorang anak laki-laki, diberi nama Piero. Piero dibesarkan dengan hati-hati di pedesaaan Tuscan, antara Florentia dan Pisa, tempat yang membesarkan Leonardo dulu. Piero kecil segera menampakkan bakat seninya. Pada usia 12 tahun, ia dibawa ke Florentia, di situ ia magang pada beberapa seniman besar, yang sudah bekerja bersama Leonardo. Piero muda menakjubkan semua orang dan dalam tempo lima tahun ia berhasil memperoleh keahlian dalam seni yang tidak pernah dicapai oleh orang lain seumur hidup mereka. Piero disebut sebagai Leonardo kedua. Sayang pada usia 23 tahun, Piero meninggal karena demam. Cerita kedua tentang mencetak manusia cerdas ini masih berkabut misteri.

Sekarang saya ingin memperkenalkan kepada Anda seseorang yang bernama William Sidis. Anak yang genius. Catatan prestasinya, pada usianya 5 tahun menulis risalah tentang anatomi, di usianya 8 tahun memperkenalkan tabel logaritma baru, dan masuk Harvard University serta memberi ceramah yang menakjubkan tentang jasad empat deminsional padahal usianya baru menginjak 11 tahun.

Hebat ‘kan dia. Dia adalah anak dari seorang ahli psikologi bernama Boris Sidis. Boris berkeyakinan bahwa pertumbuhan manusia dapat dirangsang dan dengan merangsang pertumbuhan anak sejak dini kita dapat mencegah ‘kejahatan, perbuatan kriminal, dan penyakit’. Keyakinannya itu dibuktikan, anaknya yang dijadikannya percobaan. Dan kejadian, si anak menjadi sangat cerdas bahkan terlalu cerdas.

Boris gembira, setiap kali anak itu menampilkan kehebatannya yang menakjubkan, sang psikolog yang sekaligus ayahnya mengadakan jumpa pers. Media meliput. Dunia melihat dan mendengarkan. Orang-orang tua di Amerika sambil terkagum-kagum menyimak, ingin meniru dan berharap bahwa anak yang diasuhnya juga akan menjadi William Sidis.

Bagaimana halnya dengan William Sidis sendiri. Anak ini diam-diam menampik masa depan yang petanya sudah dibuat oleh ayahnya. Ia kemudian merasakan bahwa publisitas tentang dirinya mengganggu. Bahkan ia merasa tak enak lagi belajar “sesuatu” yang selama ini dikenal sebagai kehebatannya, yaitu matematika.

William Sidis akhirnya meninggalkan pendidikan tingkat sarjananya, tanpa gelar. Ia memutuskan hubungan dengan keluargannya. Ia mengembara, nyaris menghilang. Sampai pada tahun 1937, majalah terkemuka New Yorker menerbitkan satu tulisan tentang dirinya dan kehidupannya yang tersembunyi. Waktu itu Sidis sudah berusia 39 tahun. Tampaklah gambaran keadaan William Sidis yang menyedihkan. Ia dilukiskan tinggal di sebuah kamar yang kusam dan tak rapi. Dilukiskan pula, sang jenius di masa kanak-kanak itu, kini nampak kesulitan merumuskan kata-kata yang tepat untuk mengemukakan pendapatnya. Bila ia temukan kata itu, ia bicara cepat, menganggukkan kepalanya seperti sentakan untuk menandaskan apa yang dimaksudkannya, tangan kirinya bergerak sibuk dan kadang-kadang mengeluarkan bunyi ketawa yang aneh.

William, yang hendak bersembunyi dari publisitas dan masa lalunya, kini seperti harus kembali tampil di depan umum, dalam keadaan telanjang, rudin dan payah. Ia mengadukan New Yorker ke pengadilan, yang telah mengusik haknya untuk menjaga kehidupan pribadinya terbebas dari sorotan umum apalagi dicemoohkan, direndahkan, dan dihinakan. Tapi mahkamah mengalahkannya. Alasannya orang tak punya wewenang menghapuskan masa kecilnya, dan pada saat seseorang jadi tokoh maka makin sedikit ia dapat mengklaim hak untuk privacy.

Hal yang mengagumkan – dan sekaligus mengharukan – bahwa ia telah mencoba untuk menjadi dirinya sendiri dengan memilih hidup miskin dan tak dikenal. Tapi ternyata ia tak punya lagi hak untuk menentukan dirinya sendiri, ia tak bebas menolak jejak orang tuanya, setelah begitu jauh dia melarikan diri.

Betapa tragisnya posisi Sidis. Ia mati muda, mungkin belum sampai 45 tahun. Kisah Sidis memberi pelajaran kepada kita semua. Manusia memang bisa dikarbit, dicetak, diarahkan. Tapi kelak, krisis mengerikan akan menimpa.

Cerita mencetak manusia cerdas ini, kita akhiri dengan hasil penelitian yang dikenal sebagai Operation Babysmatch. Pada tahun 1960, para psikolog di Universitas Wisconsin mengambil 40 orang bayi, yang seluruhnya mempunyai ibu dengan IQ 70 atau kurang (lemah fikiran – feeble minded). Lazimnya, bila bayi-bayi itu tidak diintervensi, maka biasanya pada usia 16 tahun kecerdasannya akan sama dengan ibunya. Sekarang mereka dibawa ke Universitas diasuh dan dididik oleh para psikolog. Pikirannya dilatih dan kreativitasnya dikembangkan. Pada usia empat tahun mereka diukur.

Menakjubkan! Rata-rata IQ mereka 128 pada satu tes dan 132 pada tes lain. Mereka menjadi yang oleh para psikolog disebut “intellectually gifted”. Mereka lebih cerdas daripada anak-anak kelompok menengah berpendidikan.

Sekarang mari kita menarik pelajaran dari cerita-cerita itu. Saya kira, kita semua bisa sepakat bahwa komunikasi adalah salah satu kebutuhan kita, dan itu harus terpenuhi. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 70% waktu jaga kita digunakan untuk berkomunikasi. Ahli komunikasi percaya bahwa komunikasi menentukan kualitas hidup kita. Dari cerita pertama, ketidakadaan komunikasi berakibat jauh lebih dahsyat dari ‘hanya’ terpuruknya kualitas hidup, malah jatuh sampai ketidakmampuan untuk mempertahankan kehidupannya itu sendiri.

Saya percaya bahwa setiap anak manusia dilahirkan dengan otak yang mempunyai potensi yang sama dengan otak Albert Einstein. Setiap anak dilahirkan berpeluang secerdas Albert Einstein. Kita percaya, manusia tunduk pada hukum hereditas. Penampilan kita ditentukan oleh penampilan kedua orang tua kita, ½-nya kita dari ibu dan ½-nya lagi dari ayah. Bagaimana dengan kecerdasan. Dari cerita kedua ditemukan ada pembenaran. Tapi dari cerita terakhir, kita dapat mengusahakan kecerdasan anak manusia menjadi jauh lebih cerdas dari orang tuanya.

Hanya saja usaha dalam mengembangkan dan meningkatkan kecerdasan anak harus dilakukan dengan bijak. Kepada Ibu/Bapak dan calon Ibu/Bapak, bukankah anak kita seperti kita, sama-sama manusia. Sama seperti kita mempunyai kesukaan dan kebutuhan. Tetapi kesukaan dan kebutuhannya terkadang satu dengan yang lain berbeda. Anak punya dunianya yang tidak sepenuhnya sama dengan dunia kita.

Daftar Pustaka

Mohamad, Gunawan. 1994. Catatan Pinggir. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.

Carrel, Alexis. 1987. Misteri Manusia. Bandung: Remaja Karya.

Do’a dan Dzikir

“Wahai manusia, sudah datang kepada kalian bulan Tuhan yang membawa berkat, rahmat, dan ampunan; bulan yang paling utama di sisi Tuhan dari bulan mana pun. Paling utama hari-harinya, malam-malamnya, bahkan jam demi jamnya. Inilah bulan ketika kalian diundang untuk menjadi tamu-tamu Tuhan. di bulan ini, kalian dijadikan orang yang berhak menerima jamuan Tuhan. Di bulan ini, napas kalian menjadi tasbih, tidur kalian ibadah, amal kalian diterima, dan doa kalian dijawab. Mohonlah kepada Allah dengan niat yang tulus dan hati yang bersih, supaya Dia membimbing kamu untuk menjalankan puasanya dan membaca Kitab-Nya. Malanglah orang yang tidak mendapat ampunan Tuhan di bulan yang agung ini. Kenanglah lapar dan dahaga kamu di bulan ini, lapar dan dahaga di hari kiamat. Besedekahlah kepada fakir miskin.

Muliakan para pemimpin kamu dan kasih sayangi orang-orang kecil di antara kamu. Sambungkan persaudaraan kamu. Pelihara lidah kamu. Jagalah dirimu agar kamu tidak melihat apa yang tidak boleh kamu lihat dan tidak mendengar apa yang tidak boleh kamu dengar. Sayangilah anak-anak yatim orang lain supaya Tuhan menyayangi anak-anak yatim kamu.”

(Khotbah Nabi Muhammad saw ketika menyambut bulan Ramadhan).

Doa mengandung makna memanggil, yaitu memusatkan pandangan yang dipanggil kepada yang memanggil. Adapun memohon dalam bahasa arab ‘sual’, yaitu mendatangkan manfaat dari yang dimohon.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (seruan) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam bimbingannya.” (Al-Baqarah : 186).

Ayat ini berada dalam rangkaian ayat-ayat shaum di bulan ramadhan. Dalam ayat ini Allah menggunakan dhamir (kata ganti) mutakalim wahdah (Aku) bukan dhamir ghaib (Dia); ada tujuh masalah yang lembut dan dalam yang diringkas dengan mengulang-ulang dhamir mutakalim wahdah hingga 7 kali; menggunakan kata ‘Hamba-hamba-Ku’ bukan ‘Manusia’ atau serupanya, dll; ini menunjukkan perhatian-Nya yang sempurna dalam masalah doa. Pada ayat ini disebutkan berdoa yang benar, yaitu apabila berdoa kepada Allah SWT.

Manusia suka berdoa yang sesuai fitrah dan nalurinya, dengan doa itu ia memohon kepada Tuhannya, Allah. Hanya saja beberapa dari manusia itu, ketika ia berada dalam kesenangan dan kegembiraan, ia menggantungkan dirinya kepada sebab-sebab lahiriah, kemudian ia menyekutukan dengan Tuhannya. Hal ini yang menyebabkan tidak jelas bagi dirinya dan mengira bahwa ia tidak berdoa kepada Tuhannya sehingga dirinya merasa tidak mesti bertanggung jawab kepada-Nya. Padahal fitrahnya tidak memohon kepada selain Dia.

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu atau datang kepadamu hari kiamat, apakah kamu berdoa kepada selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar! (Tidak), tetapi hanya Dialah yang kamu mohon, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kamu berdoa kepada Nya, jika Dia kehendaki dan kamu tinggalkan sembahan-sembahan yang kamu sekutukan (dengan Allah).” (Al-An’am : 40–41).

Katakanlah, “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu bedoa kepada-Nya dengan berendah diri dengan suara yang lembut (dengan mengatakan): Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari (bencana) ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”. Katakanlah, “Allah menyelamatkan kamu dari bencana itu dan dari segala macam kesusahan, kemudian kamu kembali mempersekutukan-Nya.” (Al-An’am: 63–64).

Kita harus paham bahwa pemilikan Allah bersifat mutlak dan tidak ada sesuatu pun yang memiliki sesuatu kecuali pemilikan yang dianugrahkan oleh Allah SWT.

“Hai manusia, kamulah yang butuh akan Allah, dan Allah Dialah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Fathir 15).

Dan Allah SWT juga menganugrahkan permohonan yang tidak disampaikan secara lisan.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu dari segala apa yang kamu mohonkan. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghingganya. Sesungguhnya manusia ini sangat dzalim dan sangat mengingkari.” (Ibrahim : 34).

“Semua yang ada di langit dan di bumi selalu memohon kepada-Nya. Setiap saat Dia dalam keadaan sibuk.” (Ar-Rahman : 29).

Hal yang harus diperhatikan pada saat berdoa:

1. Memohon hanya tertuju kepada Allah SWT

Katakanlah (kpd orang musyrik): “Tuhanku tidak mengindahkan kamu seandainya tidak ada doamu.” (Al-Furqan : 77).

“Hai Musa, berdoalah kepada-Ku setiap apa yang kamu butuhkan sekalipun makanan kambingmu dan garam untuk adonanmu.” (Hadits Qudsi).

Nabi bersabda, “ Doa adalah senjata orang beriman.”

2. Berdoa itu termasuk ibadah

“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kukabulkan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina.” (Al-Mukmin:60).

3. Rukun berdoa adalah memurnikan ibadah dan beramal shaleh.

“Maka berodalah kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya.” (Al-Mukmin : 14).

“Dan dia mengabulkan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shaleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya.” (Asy-Syura : 26).

“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah : 153).

4. Tatacara (adab) berdoa:

1)_Bertobat kepada Allah atas kesalahan ang pernah diperbuat; Memohon pada keadaan mulia (saat bersujud, setelah shalat fardlu, waktu sahur, saat turun hujan, ketika berpuasa); 2)_Memohon pada saat yang baik dan tepat (antara iqamah dan adzan, 1/3 malam, hari Jumat, bulan Ramadhan, hari Arafah, awal dan akhir tahun); 3)_Menghadap kiblat seraya mengangkat kedua tangan; 4)_Menyakini permohonan akan terkabul; 5)_Merendahkan diri, khusyu, dan takut akan murka Allah SWT; 6)_Melembutkan suara seraya tidak memaksakan diri untuk melagukan doa; 7)_Memulai permohonan dengan menyebut salah satu al-Asmau al-Husna, kalimah tauhid, hamdalah, serta bershalawat atas Rasullah saw; 8)_Tidak memohon keburukan bagi diri sendiri atau orang lain; 9)_Menyatakan permohonan dengan baik dan jelas; 10)_Mengulang permohonan sampai tiga kali dan tidak tergesa-gesa; 11)_Menutup permohonan dengan bertahmid dan bershalawat atas Nabi saw, lalu mengusapkan kedua tangan ke wajah.

“Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf : 56).

Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (Maryam : 3–4)

“Allah mempunyai al-Asmau al-Husna (baca asmaulhusna), maka berdoalah kepada-Nya dengan al-Asmau al-Husna itu dan tinggalkan orang-orang yang menyimpangkan kebenaran asma-Nya, nanti mereka mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-A’raf : 180).

Katakanlah, “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmau al-Husna.” (Al-Isra : 110).

“Hanya Dialah yang memiliki al-Asmaul al-Husna, bertasbihlah kepada-Nya apa yang ada di langit dan bumi.” (Al-Hasyr : 24).

Ber-dzikir adalah mengingat dan menyebut nama Allah SWT serta mengucapkan kalimah pujian kepada Allah SWT secara berulang-ulang. Tujuan berdzikir adalah agar kita dekat dengan Allah SWT dan tetap kuat dalam keimanan.

Allah SWT memerintahkan agar kita berdzikir:

“Ingatlah (berdzikirlah) kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.”

“Berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.”

“Aku menurut dugaan Hamba-Ku tentang Aku. Jika dugaan mereka baik, akan Aku beri baik dan jika dugaan mereka jelek, maka Aku beri jelek.” (Hadits Qudsi).

“Aku bersama hamba-Ku apabila ia mengingat Aku. Jika ia mengingat Aku, niscaya Aku mengingatnya pula. Jika ia mengingat Aku dalam suatu kelompok, niscaya Aku mengingatnya pada kelompok yang lebih baik. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya satu hasta. Jika ia mendekatkan diri kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekatinya satu depa. Jika ia datang kepada-Ku berjalan kaki, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari.

Dzikir agar dilakukan dengan: 1)_khusyu, tidak lengah; 2)_berniat untuk menambah keimanan; 3)_memohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan; 4)_Tidak mengeraskan suara; 5)_Tidak takabur.

Bahan renungan

  • “Jika Anda memohon tibanya cahaya siang pada saat kian memekatnya kegelapan malam, maka penantian Anda akan lama, karena ketika itu kepekatan akan meningkat hingga tibanya fajar. Tetapi yakinlah bahwa fajar pasti menyingsing, baik Anda kehendaki atau tidak.”
  • “Jadi, jangan salahkan Allah bila doa tak dikabulkan dan jangan pula menggerutu atau jemu.” (Syekh Abdul Qadir Jaelani).
  • “Gembirakanlah hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan pembicaraan (yang bagus) dan hanya mengikuti yang paling bagusnya saja. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah dan mereka itulah orang-orang yang bijak.” (Al-Zumar : 17–18).
  • “Orang Islam adalah orang yang orang lain selamat dari gangguan lidah dan tangannya.” (al-Hadits).
  • “Dan milik Allah timur dan barat. Kemana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah : 115)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.